PENULISAN 2 _ ETIKA DAN BISNIS

DEFINISI ETIKA DAN BISNIS SEBAGAI SEBUAH PROFESI

1. HAKIKAT MATA KULIAH ETIKA BISNIS
Menurut Drs. O.P Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi-asumsi bisnis baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.

2. DEFINISI ETIKA DAN BISNIS
Etika berasal dari kata Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya (ta etha) berarti ‘adat istiadat’ atau ‘kebiasaan’. Dalam pengertian ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Ini berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi lain. Kebiasaan ini lalu terungkap dalam perilaku berpola yang terus berulang sebagai sebuah kebiasaan.

3. ETIKET MORAL, HUKUM DAN AGAMA
Etiket berasal dari bahasa Prancis yaitu “ ethiquete “ yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama manusia. Sedangkan etika itu berasal dari bahasa Yunani atau latin berarti falsafah moral dan merupakan bagaimana cara hidup yang baik dan benar dilihat dari sosial, budaya dan agama. Walaupun demikian keduanya juga memiliki kesamaan yaitu:
- Keduanya mempunyai objek yang sama yaitu perilaku atau tindak tanduk manusia.
- Keduanya mengatur perilaku manusia secara normatif, yang berarti bahwa perilaku manusia dan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukannya.

4. KLASIFIKASI ETIKA
Menurut Buku yang berjudul “Hukum dan Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H.,M.M, Etika dapat di klasifikasikan menjadi:
- Etika Deskriptif : Etika dimana objek yang dinilai adalah sikap dan perilaku manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana adanya. Nilai dan pola perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercermin ada situasi dan kondisi yang telah membudaya di masyarakat secara turun menurun.
- Etika Normatif : sikap dan perilaku manusia atau masyarakat sesuai dengan norma dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi acuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.
- Etika Deontologi : etika yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban untuk berbuat baik terhadap orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya dilihat dari akibat dan tujuan yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau aktivitas, tetapi dari sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau pihak lain.
- Etika Teleologi : etika yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya sesuatu yang dicapai adalah sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik. Baik ditinjau dari kepentingan pihak yang terkait, maupun dilihat dari kepentingan semua pihak.
- Etika Relatifisme : etika yang dipergunakan dimana mengandung perbedaan kepentingan antara kelompok parsial dan kelompok universal atau global. Etika ini hanya berlaku bagi kelompok pasrial, misalnya etika yang sesuai dengan adat istiadat lokal, regional dan konvensi, sifat dan lain-lain. Dengan demikian tidak berlaku bagi semua pihak atau masyarakat yang bersifat global.

5. KONSEPSI-KONSEPSI ETIKA
Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai arti kebiasaan – kebiasaan tingkah laku manusia, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berfikir. Dalam bentuk jamak ta etha mempunyai adat kebiasaan. Menurut filsuf Yunani Aristoteles, istilah etika sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat atau moral. Sehingga berdasarkan asal usul kata, maka etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

                  PRINSIP ETIKA DALAM BISNIS SERTA ETIKA DALAM LINGKUNGAN

1. PRINSIP OTONOMI
Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

2. PRINSIP KEJUJURAN
Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.

3. PRINSIP KEADILAN
Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria rasional objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.

4. HORMAT PADA DIRI SENDIRI
Prinsip tindakan yang dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu sendiri. Dalam aktivitas bisnis tertentu kemasyarakatan merupakan cermin diri bisnis yang bersangkutan. Namun jika bisnis memberikan kontribusi yang menyenangkan bagi masyarakat, tentu masyarakat memberikan respon sama. Sebaliknya jika bisnis memberikan image yang tidak menyenangkan maka masyarakat tentu tidak menyenangi terhadap bisnis yang bersangkutan. Namun jika para pengelola perusahaan ingin memberikan respect kehormatan terhadap perusahaan, maka lakukanlah respect tersebut pada pihak yang berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung. Segala aspek aktivitas perusahaan yang dilakukan oleh semua armada didalam perusahaan, senantiasa diorientasikan untuk memberikan respect kepada semua pihak yang berkepentingan kepada perusahaan. Dengan demikian, pasti para pihak ini akan memberikan respect yang sama terhadap perusahaan.

5. HAK DAN KEWAJIBAN
- Hak merupakan klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu terhadap yang lain atau terhadap masyarakat. Orang yang mempunyai hak yang bisa menuntut (dan bukan saja mengharapkan atau menganjurkan) bahwa orang lain akan memenuhi dan menghormati hak itu.
- Kewajiban berarti suatu keharusan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan mengikuti kaidah serta aturan yang ada dan biasanya dimula oleh sesuatu yang memiliki hak kepada seseorang atau kelompok tersebut.

6. TEORI ETIKA LINGKUNGAN
Masalah sekitar lingkungan hidup baru disadari sepenuhnya dalam tahun 1960-an. Sekaligus disadari pula bahwa masalah itu secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh, khususnya oleh cara berproduksi dalam industry yang berdasarkan ilmu dan berteknologi maju. Tentu banyak keluhan tentang pengaruh negative dari industry atas lingkungan hidup. Dalam sastraan dapat kita baca bagaimana penghuni disekitar pabrik-pabrik diasosiasikan dengan asap, jelaga, dan bau yang tidak sedap.

7. PRINSIP ETIKA DILINGKUNGAN HIDUP
1) Lingkungan hidup sebagai “the commons"
Dalam zaman modern, dengan bertambahnya jumnlah penduduk sistem ini tidak bisa dipertahankan lading umum itu diprivatisasi dengan menjualnya kepada penduduk perorangan. Bagi masyarakat yang bersangkutan kejadian ini merupakan suatu perubahan yang besar. Menurut Hardin, masalah lingkungan hidup dan masalah kependudukan dapat dibandingkan dengna proses menghilangkan the commons.
2) Lingkungan hidup tidak lagi eksternalitas
Dengan demikian serentak juga harus ditinggalkan pengandalan kedua tentang lingkungan hidup dalam bisnis modern, yakni bahwa sumber daya alam itu tidak terbatas. Mau tidak mau harus kita akui lingkungan hidup dan komponen-komponen tetap terbatas walaupun barang kali tersedia dalam kapasitas yang besar.
3) Pembangunan yang berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan dapat memperdamaikan beberapa pandangan tentang hubungan antara ekonomi dan lingkungan hidup yang selama ini tampak bertentangan dan sehingga sulit untuk dijembatani. Pertentangan diantara mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan mereka yang menolak dapat diperdamaikan, karena kalau kita menyetujui prinsip pembanguna berkelanjutan, pertumbuhan tetap dimungkinkan, asalkan untuk masa depan terbuka aspek ekonomi yang berkualitas sama. 

MODAL ETIKA DALAM BISNIS, SUMBER NILAI ETIKA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ETIKA MANAJERIAL

1. IMMORAL MANAJEMEN 
Tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sadungan dalam menjalankan bisnisnya.

2. AMMORAL MANAJEMEN
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya tidak tahu sama sekali etika atau moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral yaitu:
- Manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manajer). Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan atau pihak lain atau tidak. Tipikal manejer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas.
- Tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen dengna pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara sadar melanggar etika tersebut  berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka misalnya ingin melakukan efisiensi dan lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada diluar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas. 

3. MORAL MANAJEMEN
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk perilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang dijalankannya secara lega dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktivitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi dari apa yang disebut sebagian tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden role) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.

4. AGAMA, FILOSOFI, BUDAYA DAN HUKUM
- Agama
Etika sebagai ajaran baik buruk, benar salah, atau ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi barat menunjuk pada kitab injil (bible), dan etika ekonomi yang budi banyak menunjuk pada taurat. Demikian pula etika ekonomi islam termuat dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang dimuat dalam Al-Qur’an. Etika yang bersumber dari ajaran agama mengandung prisip yang berkaitan dengan nilai-nilai kebenaran yang berkaitan sikap dan perilaku yang dikasih tuhan. Hans kung (2005) menyebutkan pada intinya ada persamaan prinsip-prinsip nilai-nilai dasar etika yang ada dalam ketiga agama Nabi Ibrahim ini yaitu:
--keadialan : kejujuran, pemergunakan kekuatan untuk menjaga kebenaran
--saling menghormati : cinta dan perhatian terhadap orang lain.- pelayanan : manusia hanya ‘pelayan’, ‘pengawas’ sumber-sumber alam.
--kejujuran : kejujuran dan sikap dapat dipercaya dalam semua hubungan manusia, dan integritas yang tinggi.
- Filosofi
Salah satu sumber niali-nilai etika yang juga menjadi acuan dalam pengambilan keputusan oleh manusia adalah ajaran-ajaran filosofi. Ajaran filosofi tersebut bersumber dari ajaran-ajaran yang diwariskan dari ajaran-ajaran yang sudah diajarkan dan berkembang lebih dari 2000 tahun yang lalu. Ajaran-ajaran ini sangat rijik, komplek, yang menjadi tradisi klasik yang bersumber dari berbagai-berbagai pemikiran pala filsof-filsof saat itu. Ajaran-ajaran ini terus berkembang dari tahun ke tahun.
- Hukum
Hukum adalah pengkat aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan ekspektasi-ekspektasi etika yang diharapakan dalam masyarakat dan mencoba mengatur serta mendorong pada perbaikan-baikan masalah-masalah yang dipadang buruk atau tidak baik dalam masyarakat. Sebenarnya bila kita berharap bahwa dengan hukum dapar mengantisipasi semua tindakan pelanggaran sudah pasti ini menjadi suatu yang musthil. Karena biasanya hukum dibuat setelah pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam masyarakat.
- Budaya
Referensi penting lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai acuan etika bisnis adalah pengalaman dan perkembangan budaya, baik budaya dari suatu bangsa maupun budaya yang bersumber dari berbagai negara (cnackeen,1986). Budaya yang mengalami transisi akan melahirkan nilai, aturan-aturan dan standar-standar yang diterima oleh suatu komunitas tertentu dan selanjutnya diwujudkan dalam perilaku seseorang, suatu kelompok atau suatu komunitas yang lebih besar.

5. LEADERSHIP
Peran manajer dalam menjalankan suatu perusahaan adalah sentral, sebab para manajerlah yang menjadi orang yang akan mengambil keputusan-keputusan penting dalam menjalankan seluruh aktivitas pekerjaan. Kepimpinan yang beretika menggabungkan antara pengambilan keputusan yang beretika dan perilaku beretika : dan ini tampak dalam konteks individu dan berorganisasi. Tanggung jawab utama daro seorangg pemimpin adalah membuat keputusan yang beretika dan berperilaku secara beretika pula, serta mengupayakan agar organisasi pemahami dan menerapkannya dalam kode-kode etik.

6.STRATEGI DAN PERFORMASI
Sebuah fungsi penting dari manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang jelek akan memiliki kesulitan besar untuk menyalaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut excellent harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan- kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.

7. KARAKTER INDIVIDU
Perjalanan hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam menjalankan fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku dalam individu ini tentu akan sangat mempengaruhi tindakan-tindakan mereka ditempat kerja atau dalam menjalankan aktivitas bisnisnya semua kualitas individu nantinya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah pengaruh budaya, pengaruh budaya adalah pengaruh nilai-nilai yang dianut dalam warganya. Faktor kedua adalah perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh lingkungan yang diciptakan dalam tempat kerjanya, diantaranya berupa aturan dan kode etik perusahaan ditempat kerjanya. Aturan dan kode etik ditempat kerja akan membimbing individu untuk menjalankan perannya ditempat kerjanya. Faktor yang ketiga adalah berhubungan dengan lingkungan luar tempat dia hidup berupa kondisi politik dan hukum, serta pengaruh-pengaruh perubahan ekonomi.

8. BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu organisasi. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercayai sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya perusahaan inilah yang membantu terbentuknya nilai dan moral ditempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholdernya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan.

NORMA ETIKA DALAM PEMASARAN, PRODUKSI, MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN FINANSIAL

1. PASAR DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN
- Pasar : salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur di mana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang.
- Perlindungan Konsumen (Pasal 3) yaitu:
1) Meningkatkan kesadaran, kemampuan, kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
2) Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan / atau jasa.
3) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
4) Menciptakan sistem perlindungan konsumen unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
5) Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha.
6) Meningkatkan kualitas barang dan / atau jasa yang yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan / atau jasa, kesehatan kenyamaan, keamanan, keselamatan konsumen.

2. ETIKA IKLAN
Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.Menurut Thomas M. Garret SJ (1961 : 1), iklan dipahami sebagai aktivitas–aktivitas yang lewatnya pesan–pesan visual atau oral disampaikan kepada khalayak dengan maksud menginformasikan atau memengaruhi mereka untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi, atau untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi secara positif terhadap idea-idea, institusi-institusi atau pribadi-pribadi yang terlibat di dalam iklan tersebut.

3. PRIVASI KONSUMEN
Privasi konsumen Sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan pilihan atau kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak pihak lain dalam rangka menyepi saja. 

4. MULTIMEDIA ETIKA BISNIS
Etika berbisnis dalam multimedia didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
1) Akuntabilitas perusahaan termasuk tata kelola perusahaan (good corporate governance) dalam  pengambilan keputusan manajerial.
2) Tanggungjawab sosial, yang merujuk pada peranan bisnis dalam lingkungannya, pemerintah lokal dan nasional dan kondisi bagi karyawannya.
3) Kepentingan stakeholder, yang mana ditunjukan kepada kepentingan pemegang saham, owner, CEO dan pelanggan, supplier dan kompetitornya.

5. ETIKA PRODUKSI
Etika Produksi adalah seperangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar dan salahnya hal hal yang dikukan dalam proses produksi atau dalam proses penambahan nilai guna barang.

6. PEMANFAATAN SDM
Dalam pemanfaatan SDM, permasalahan yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:
- Kualitas SDM yang sebagian besar masih rendah atau kurang siap memasuki duniakerja atau dunia usaha.
- Terbatasnya jumlah lapangan
- Jumlah angka pengangguran yang cukup tinggi. 

7. ETIKA KERJA
Etika kerja adalah sistem nilai atau norma yang digunakan oleh seluruh karyawan perusahaan, termasuk pimpinannya dalam pelaksanaan kerja sehari-hari. Perusahaan dengan etika kerja yang baik akan memiliki dan mengamalkan nilai-nilai, yakni : kejujuran, keterbukaan, loyalitas kepada perusahaan, konsisten pada keputusan, dedikasi kepada stakeholder, kerja sama yang baik, disiplin, dan bertanggung jawab.

8. HAK-HAK KERJA
Hak pekerja merupakan topik yang perlu dan relevan untuk dibicarakan dalam rangka etika bisnis. Penghargaan dan jaminan terhadap hak pekerja merupakan salah satu penerapan dari prinsip keadilan dalam bisnis. Dalam hal ini keadilan menuntut agar semua pekerja diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing. Baik sebagai pekerja maupun sebagai manusia, mereka tidak boleh dirugikan, dan perlu diperlakukan secara sama tanpa diskriminasi yang tidak yang rasional. Karena dipelaksanan dan penegakan keadilan sangat menentukan praktek bisnis yang baik dan etis. Yang berarti bahwa penghargaan dan jaminan atas hak pekerja sangat ikut menentukan baik dan etisnya praktis bisnis.

9. HUBUNGAN SALING MENGUNTUNGKAN
Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principal) Prinsip ini menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Jadi, kalau prinsip keadilan menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya, prinsip saling menguntungkan secara positif menuntut hal yang sama, yaitu agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan satu sama lain.

10. PERSEPAKATAN PENGGUNAAN DANA
Pengelola perusahaan mau memberikan informasi tentang rencana penggunaan dana sehingga penyandang dana dapat mempertimbangkan peluang return dan resiko. Rencana penggunaan dana harus benar-benar transparan, komunikatif dan mudah dipahami. Semua harus diatur atau ditentukan dalam perjanjian kerja sama penyandang dana dengan alokator dana.

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Sonny. 1998. Etika Bisnis dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius.
Bartens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.
Rinjin, Ketut. 2004. Etika Bisnis dan Implementasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka.
R, Erni. 2007. Bussiness Ethics. Bandung: Alfabeta.
Radito, Bambang., dan Melia, Famiola. 2013. CSR (Corporate Social Responsibility). Bandung: Rekayasa Sains.
Janto, Agus Jari. 2011. Etika Bisnis Bagi Pelaku Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dewi, Septiani. 2016. Hakekat Mata Kuliah Etika Bisnis (online). https://septianidewi20.wordpress.com/2016/10/02/hakekat-mata-kuliah-etika-bisnis/(diakses 15 Maret 2019)
Novianti, Siti. 2015. Model Etika dalam Bisnis, Sumber Nilai Etika dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Etika Manajerial (online).
Nisa, Anisah. 2017. Norma & etika dalam pemasaran, produksi, manajemen SDM, & keuangan (financial) (online).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASSIGMENT 4 _ ETIKA BISNIS

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB SERTA PENGABDIAN

MODAL KOPERASI, SUMBER MODAL DAN DISTRIBUSI CADANGAN KOPERASI